Sistem ETLE Tidak Akurat? Ini Penyebab Utama dan Solusinya

Sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) dihadirkan sebagai solusi modern untuk menertibkan lalu lintas melalui kamera pengawas yang merekam pelanggaran secara otomatis. Namun dalam perkembangannya, berbagai laporan masyarakat menunjukkan adanya ketidakakuratan dalam sistem ini. Sistem ETLE tidak akurat terbukti dari banyaknya tilang yang diterima tanpa sebab yang jelas, bahkan kendaraan yang sedang terparkir pun dapat memperoleh surat konfirmasi pelanggaran. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai akar permasalahan yang menyebabkan sistem ETLE sering meleset. Lebih dari sekadar gangguan administratif, ketidakakuratan ini berpotensi menciptakan keresahan, menurunkan kepercayaan publik, dan membebani masyarakat dengan urusan yang seharusnya tidak perlu dihadapi.

Kendala Teknis pada Perangkat ETLE

Tingkat akurasi ETLE sangat ditentukan oleh kualitas perangkat keras dan lunak yang digunakan dalam operasional sehari-hari. Ketika komponen teknis mengalami kendala, hasil rekaman dan proses identifikasi pelanggaran otomatis terganggu. Berbagai faktor teknis berkontribusi terhadap ketidaktepatan data tilang yang dikirimkan kepada masyarakat. Perangkat yang tidak memadai menjadi titik lemah yang perlu segera dibenahi.

1. Kualitas Kamera dan Kondisi Cuaca

Kamera dengan resolusi terbatas dan tanpa fitur night vision mengalami kesulitan saat cuaca buruk atau pada malam hari. Hujan lebat, kabut, atau pencahayaan minim menyebabkan hasil rekaman menjadi buram sehingga plat nomor kendaraan sulit terbaca. Akibatnya, tilang dapat dikirimkan kepada kendaraan lain yang tidak bersalah hanya karena kesalahan pembacaan karakter plat. Debu dan kotoran yang menempel pada lensa semakin memperburuk kualitas gambar yang dihasilkan.

2. Gangguan Sinyal dan Jaringan Komunikasi

Ketidakstabilan jaringan internet menyebabkan data pelanggaran yang dikirim ke pusat verifikasi mengalami kerusakan atau ketidaklengkapan. Di daerah dengan infrastruktur telekomunikasi yang belum memadai, risiko ini meningkat secara signifikan. Petugas verifikasi terpaksa mengambil keputusan berdasarkan data seadanya yang sudah dalam kondisi cacat. Proses verifikasi menjadi tidak maksimal sehingga potensi kesalahan penetapan tilang semakin besar.

Sistem ETLE Tidak Akurat? Ini Penyebab Utama dan Solusinya

3. Pemeliharaan Alat yang Tidak Rutin

Kamera yang dibiarkan kotor, terhalang dedaunan, atau mengalami pergeseran posisi akibat kurangnya perawatan mengurangi kualitas pengawasan. Beberapa kamera bahkan mati total dan tidak segera diperbaiki, menciptakan titik buta dalam sistem pengawasan. Perawatan rutin seperti pembersihan lensa dan pemangkasan ranting di sekitar kamera seharusnya menjadi agenda wajib. Sayangnya, hal ini sering terabaikan dalam pelaksanaannya.

4. Keterbatasan Kecerdasan Buatan

Teknologi kecerdasan buatan yang digunakan dalam ETLE memiliki kemampuan memadai dalam membaca plat nomor, tetapi masih terbatas dalam memahami konteks situasional. Sistem belum dapat membedakan kendaraan yang berhenti karena kemacetan dengan yang sengaja parkir di jalur busway. Kemampuan memahami situasi darurat seperti memberi jalan kepada ambulans juga belum dimiliki. Akibatnya, pengendara yang tidak bersalah dapat menjadi korban kesalahan sistem.

Baca Juga: Panduan Menginstal dan Mengatasi Masalah ETLE

Kelemahan dalam Proses Verifikasi Manual

Setelah kamera merekam pelanggaran, tahapan selanjutnya adalah verifikasi oleh petugas untuk menentukan apakah bukti tersebut layak diteruskan menjadi tilang. Proses yang melibatkan sumber daya manusia ini tidak luput dari berbagai kelemahan dan keterbatasan. Idealnya verifikasi mampu menyaring kesalahan teknis, namun kenyataan di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Berikut adalah kelemahan utama dalam proses verifikasi data ETLE.

1. Beban Kerja Petugas yang Tinggi

Jumlah personel verifikasi tidak sebanding dengan volume data pelanggaran yang mencapai jutaan setiap hari. Di kota-kota besar dengan kepadatan lalu lintas tinggi, data yang masuk dapat mencapai puluhan ribu per jam. Tekanan target penyelesaian memaksa petugas bekerja dengan kecepatan tinggi. Foto-foto yang masih ambigu sering langsung dianggap sebagai pelanggaran tanpa penelaahan mendalam.

2. Kompleksitas Data yang Diverifikasi

Tidak seluruh pelanggaran bersifat kasat mata karena pengendara kadang melanggar akibat situasi darurat. Menghindari lubang di jalan, membawa orang sakit, atau kondisi jalan yang kacau menjadi contoh situasi yang memerlukan interpretasi khusus. Kamera hanya merekam beberapa detik tanpa mampu menangkap konteks utuh kejadian. Petugas yang kurang teliti dapat salah menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi.

3. Subjektivitas Penilaian Manual

Sebagai manusia, petugas verifikasi memiliki subjektivitas dalam menilai suatu foto pelanggaran. Perbedaan pendapat antara satu petugas dengan petugas lain merupakan hal yang wajar terjadi. Kelelahan kerja juga dapat menyebabkan kesalahan pembacaan plat nomor akibat kemiripan huruf dan angka. Inkonsistensi keputusan pun menjadi tidak terhindarkan dan berpotensi merugikan masyarakat.

4. Minimnya Quality Control

Idealnya setiap foto pelanggaran diperiksa oleh dua petugas berbeda untuk meminimalisir kesalahan. Namun karena keterbatasan jumlah personel, pemeriksaan cukup dilakukan sekali sebelum tilang diterbitkan. Tidak terdapat mekanisme pengecekan acak untuk memastikan kualitas verifikasi tetap terjaga. Kesalahan yang terjadi baru diketahui setelah masyarakat mengajukan protes.

Baca Juga: Cara Memastikan ETLE Berfungsi dengan Benar

Masalah Sinkronisasi Data Kendaraan

Data kendaraan yang akurat dan termutakhirkan menjadi fondasi penting dalam penegakan hukum berbasis teknologi. Ketika data di lapangan tidak sesuai dengan database yang digunakan sistem, kesalahan administrasi menjadi tak terhindarkan. Sistem secanggih apa pun akan menghasilkan output keliru jika data acuannya bermasalah, dan pada akhirnya sistem ETLE tidak akurat dalam memproses pelanggaran. Berikut adalah permasalahan sinkronisasi data yang sering terjadi.

1. Data Plat Nomor Tidak Diperbarui

Proses jual beli kendaraan bekas sering tidak diikuti dengan pengurusan balik nama secara resmi. Akibatnya, pemilik lama yang telah menjual kendaraannya tetap menerima tilang atas pelanggaran yang dilakukan kendaraan tersebut. Pemilik lama harus menjalani proses klarifikasi yang panjang. Hal ini terjadi hanya karena data kepemilikan tidak diperbarui sesuai ketentuan.

2. Keterlambatan Update Data Samsat

Proses administrasi di Samsat yang masih manual di sejumlah daerah menyebabkan pembaruan data berjalan lambat. Meskipun pemilik telah melaporkan perubahan alamat atau balik nama, sistem ETLE belum merefleksikan perubahan tersebut. Waktu tunggu hingga berminggu-minggu bukan hal yang aneh terjadi. Selama masa transisi, tilang tetap dikirimkan ke alamat lama.

3. Penggunaan Plat Nomor Palsu

Praktik penggunaan plat nomor palsu atau cloning kian marak dilakukan pelaku kejahatan untuk menghindari identifikasi. Ketika kendaraan dengan plat palsu melakukan pelanggaran, tilang otomatis dikirimkan kepada pemilik asli. Pemilik asli yang tidak bersalah harus menanggung beban klarifikasi. Sistem ETLE saat ini masih kesulitan membedakan plat asli dan palsu.

4. Data Spesifikasi Tidak Akurat

Kendaraan yang mengalami modifikasi signifikan sering tidak tercatat perubahannya dalam database. Akibatnya, sistem dapat salah mengidentifikasi jenis atau golongan kendaraan. Kesalahan identifikasi ini berujung pada penerbitan tilang yang tidak tepat sasaran. Pemilik kendaraan harus mengurus klarifikasi akibat ketidakakuratan data spesifikasi.

Baca Juga: Bagaimana Cara Kerja ETLE atau Tilang Elektronik?

Solusi untuk Meningkatkan Akurasi ETLE

Berbagai permasalahan yang telah diuraikan membutuhkan penanganan komprehensif dan terintegrasi. Tidak cukup hanya memperbaiki satu aspek, tetapi perlu dilakukan pembenahan pada seluruh komponen sistem. Pemerintah, kepolisian, dan seluruh pemangku kepentingan harus berkolaborasi merumuskan solusi. Berikut adalah langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan.

1. Modernisasi Perangkat dan AI

Peningkatan kualitas kamera ETLE dengan resolusi tinggi yang mampu merekam jelas pada malam hari dan saat hujan merupakan kebutuhan mendesak. Fitur infrared dan lensa anti-air harus menjadi standar dalam pengadaan kamera baru. Teknologi kecerdasan buatan juga perlu dikembangkan agar mampu memahami konteks situasional. Investasi teknologi ini sepadan dengan akurasi yang akan diperoleh.

2. Penguatan Infrastruktur Jaringan

Jaringan komunikasi data harus diperkuat dengan serat optik di perkotaan dan teknologi satelit di daerah terpencil. Sistem backup dan disaster recovery plan wajib disiapkan guna mengantisipasi gangguan teknis. Keamanan siber perlu ditingkatkan untuk mencegah peretasan atau manipulasi data. Kelancaran transmisi data menjadi prioritas utama.

3. Optimalisasi SDM Verifikator

Penambahan jumlah petugas verifikasi dan pelatihan berkala diperlukan untuk meningkatkan keterampilan analisis. Verifikasi berjenjang untuk kasus ambigu perlu diterapkan dengan pemeriksaan minimal dua petugas. Penerapan sistem reward and punishment dapat menjaga motivasi dan kualitas kerja. Kualitas sumber daya manusia tidak boleh diabaikan.

4. Integrasi Data Real-Time

Sinkronisasi data antara kepolisian, Samsat, dan lembaga terkait harus dilakukan secara real-time tanpa penundaan. Teknologi blockchain dapat diterapkan untuk menjaga integritas data dan mencegah manipulasi. Masyarakat perlu diedukasi untuk segera melaporkan perubahan data. Layanan digital yang cepat dan sederhana harus disediakan.

Baca Juga: Apa Saja Jenis-jenis Pelanggaran Tilang Elektronik ETLE?

Kesimpulan

Sistem ETLE merupakan inovasi positif dalam upaya menertibkan lalu lintas, namun masih menghadapi berbagai kekurangan dalam implementasinya. Permasalahan teknis, kelemahan proses verifikasi, dan ketidaksinkronan data menjadi faktor utama yang menyebabkan sistem ETLE tidak akurat. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat melalui beban administratif, kerugian finansial, dan menurunnya kepercayaan terhadap penegakan hukum.

Seluruh permasalahan tersebut dapat diatasi melalui perbaikan bertahap yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah dan kepolisian perlu berkomitmen membenahi sistem secara serius. Masyarakat juga berperan aktif menjaga data kendaraan tetap mutakhir. Dengan langkah perbaikan yang konsisten dan kolaboratif, sistem ETLE diharapkan dapat menjadi instrumen penegakan hukum yang akurat, adil, dan transparan.

Mengalami kendala karena sistem ETLE tidak akurat atau data yang kurang presisi? PT DCT Total Solutions siap membantu dengan solusi sistem pemantauan dan integrasi teknologi yang lebih andal dan terkalibrasi. Kami menghadirkan pendekatan teknis yang terukur untuk meningkatkan akurasi pembacaan dan validasi data di lapangan. Jelajahi portofolio kami lebih lanjut untuk melihat implementasi sistem yang telah kami tangani. Konsultasikan kebutuhan Anda sekarang melalui WhatsApp 0899-0288-888 atau email info@dct.co.id.